Category Archives: Burung Hutan

tentang burung hutan an burung semak

Aku, Kamu dan Kangkok Ranting

Berharap bisa menulis seperti seorang kawan di jauh sana, apa yang dia pikirkan sebenarnya, namun itulah, kadang apa yang kita tulis pertama kali itu adalah sesuatu yang benar-benar keluar dari pikiran yang sedikit jernih, ya jernih ada debu-debunya dikit, ga jernih-jernih amat, tidak bening-bening amat juga, namun di batas abu-abu, yup itu sudah.

Seorang kawan yang baru aku kenal di area pertemuan para pengamat burung indonesia, kocak dan penuh dedikasi, banyak candaan bersama beliau selama tiga hari dalam kebersamaan dibawah tenda biru, ketika di suruh untuk membawakan presentasi, yang kelura hanya celetukan dan banyolan yang seger yang tidak lepas dari inti permasalahan yang dia dan kawan-kawannya bawa, burung, ya burung, kenapa dan mengapa, entahlah, hanya tuhan yang tau kenapa dan mengapanya.

kangkok ranting
kangkok ranting

Continue reading Aku, Kamu dan Kangkok Ranting

Manggila dan Dana Mbojo

“Tersebut dalam sebuah kisah garuda kepala dua, muncul dalam sebuah legenda yang takk ada batas impian yang menggapainya, hidup berdampingan dalam segala wujud, berjalan bersama dalam ketiadaan, Manggila, dipanggil dalam sebuah ritual yang tak ada wujud dan rupa”

cerita seorang sahabat kepadaku yang menjelajah setiap jengkal penjuru di bima, banyak kisah yang dia ceritakan antara percaya dengan tidak, ada yakin dengan tidak, semuanya di batas hitam dan putih dan abu-abu tidak jelas, namun masih ada rupanya yang masuk dalam logikaku bahwa itu memang benar adanya.

Sariwang Asia (asian paradise Flycather)
Sariwang Asia (asian paradise Flycather)

Continue reading Manggila dan Dana Mbojo

Cekakak Suci / Todirhamphus sanctus

Burung cekakak sungai (Todirhamhus chloris) sangat mirip dengan cekakak suci (Todirhamphus sanctus). Kedua burung ini masuk dalam famili alcedinidae yang memiliki ciri khas paruhnya yang besar dan bersarang di lubang-lubang tebing. Kedua burung ini memiliki pola warna yang hampir serupa, dan juga ukuran tubuh yang hampir sama. Banyak pengamat burung pemula yang bingung bagaimana cara membedakan cekakak sungai dengan cekakak suci ini. dan itu saya alami sendiri ketika pertama kali masuk kedalam dunia kehidupan burung.
Di Bima NTB sendiri, jenis kedua cekakak ini masih sangat umum dijumpai disekitar aliran sungai dan hutan perkotaan, husus untuk cekakak sungai, bisa ditemukan di sembarang tempat, di hutan kota, di pinggiran kota bahkan di sekitar rumah warga bisa dijumpai, namun untuk cekakak suci, di wilayah perkotaan semisal di taman kota dan rumah-rumah warga pinggiran kota sudah sangat jarang ditemukan.
Dalam bahasa bima, kedua jenis ini di sebut “tagere”, asal muasal sebutan nama ini masih simpang siur, namun dibelakang nama tagere di sematkan kata “mpinga” yang artinya “budek” karena jenis ini memang budek.

Cekakak Suci

dengan suara yang lantang, kedua jenis ini sangat mudah di identifikasi oleh para ahli walaupun tampa melihat bentuknya, suara yang mirip antara kedua jenis ini memang sering menipu untuk identifikasi juga, namun pada dasarnya, identifikasi jenis ini akan lebih mudah ketika melihat secara langsung fisik dan warnanya.
Continue reading Cekakak Suci / Todirhamphus sanctus

Uncal Buau

Uncal Buau
(take at ; Sangiang Api so Sori Peto, By : Abdul Azis Gizan

masih tentang sangiang, sebuah gunung api yang terletak di tengah lautan selat makassar bima, sebuah gunung api yang masih mistik (untuk saat sekarang), dan sebuah gunung api yang masih menyimpan sejuta bahkan beribu pesona akan flora dan fauna.
Kali pertama aku dan kawanku Arif “Ganja” taufikurrahman berkunjung kesana bersama dengan team BKSDA untuk inventaris keberagaman hayati baik flora dan fauna, aku secara takjub begitu terkesima melihat penampilan gunung api yang masih aktif ini secara langsung di kaki gunungnya, memiliki ketinggia 1800 MDPL, merupakan gunung api aktif yang di idam-idamkan oleh sebagian para pendaki di indonesia setelah anak gunung krakatau ataupun ibunnya gunung krakatau.
Continue reading Uncal Buau

Sangiang Api (2)

___ HARI PERTAMA, SORI PETO.

Kirik-Kirik Australia

Perjalanan dari sangiang darat menuju sangiang pulau memakan waktu sekitar 1,5 jam menggunakan perahu Boat nelayan yang menjemput warga di sangiang pulau setiap harinya hanya satu kali. Pada kesempatan ekspedisi ini, kami mencarter boat nelayan untuk mengantarkan kami ke lokasi Sori Peto yang berada di ujung barat dari pulau sangiang api, lama perjalanan dari sangiang darat ke lokasi Sori Peto adalah 2,5 jam karena harus memutar terlebih dahulu dan mengarungi areal pinggir pantai dikarenakan arus laut atas di wilayah sangiang pulau cukup kuat.
Sebelum mencapai lokasi, akan dilewati Sori Sola, yaitu aliran sungai bekas aliran larva dingin yang gugur dari puncak sangiang api ketika meletus tahun 1985 dan tahun 2015 kemarin dan tidak ada aliran air yang melewati sori sola yang sampai ke laut.
Continue reading Sangiang Api (2)

Bondol Pancawarna / Lonchura quinticolor

Bondol Pancawarna

Masih sama dengan postingan-potingan sebelumnya tentang dunia perburungan, kali ini, saya yang tergabung dalam team SINDIKAT wildlife bima-dompu melakukan perjalanan ke wilayah utara Bima, tepatnya di Pulau sangiang api, ya, sangiang api merupakan satu pulau gunung api aktif yang ada di wilayah Bima, terletak di tengah lautan dan merupakan tempat yang potensial bagi habitat satwa di Bima.
Continue reading Bondol Pancawarna / Lonchura quinticolor

Cikrak Kutub / Arctic Warbler (Arctic Leaf-Warbler) / Phylloscopus borealis (H. Blasius,1858)

Cikrak Kutub (c) Gizan Hila | Abdul Azis

Ada burung sejenis cikrak daun dari wilayah utara Eropa, Asia, dan Amerika yang menjelang musim dingin pasti nyelonong ke Indonesia. Para ahli burung (ornitholog) Indonesia menamakannya cikrak kutub / arctic warbler (Phylloscopus borealis). Biasanya mereka mulai datang pada September atau Oktober, dan berada di negeri kita hingga Maret atau April tahun berikutnya
Ada yang spesial ketika saya mengabadikan jenis ini di hutan desa Mangge Bima NTB, jenis yang begitu lincah berpindah tempat dari satu ranting ke ranting yang lain, sampai saya berhenti sejenak untuk mengabadikannya dan hanya memperhatikannya, dia menyelip di sela ranting-ranting yang kecil sehingga saya hanya bisa melihat.
Suaranya yang begitu melengking hingga saya lumayan terpesona untuk beberapa saat, ada beberapa pasang jenis ini ketika saya berada di dekatnya, tidak terlalu jauh saya mengabdikannya, cukup duduk diam di rimbunan semak dengan memakai kain kauflase, mengadikan jenis ini adalah hal yang asik, dan membuat vidio tentang ini lumayan menanatang.
Cikrak Kutub, dalam bahasa indonesianya, namun dalam bahasa bima, dia di panggil kari’i kacero na’e, entah kenapa dalam nama bima selalu saja masuk Na’e gitu ketika melihat jenis yang besar. dalam dunia ornotologi, cikrak kutub berkembang biak di daerah selatan (daerah dingin) atau daerah utara, dia merupakan burung migran, namun di Bima dia sudah jadi penetap.
Continue reading Cikrak Kutub / Arctic Warbler (Arctic Leaf-Warbler) / Phylloscopus borealis (H. Blasius,1858)