Category Archives: Lanscape

tentang perjalanan

Joe, Aku Masih Bercerita Untukmu Sahabat

Joe, Aku Masih Bercerita Untukmu Tentang Kotaku.

Hai joe, aku telah menulis di salah satu web publikasi seperti yang kau sarankan dahulu joe, apa kabarmu sekarang? masih sehatkah sahabat? atau jangan-jangan kumis kau makin panjang saja joe. Kemarin lusa si tongseng jamu datang ke bima joe, kau taulah dia seperti apa, datang dan pergi sesuka hati dan meninggalkan jejak yang tak bisa dibayangkan bagaimana jadinya nanti joe.

Joe, aku pikir kau akan menjadi orang lombok nanti joe, tidak rindukah kau akan kampung halaman joe sampai-sampai kau betah untuk tinggal di lombok, padahal lombok dan bima jaraknya hanya 12 jam perjalanan darat joe, itu jika kau menggunakan bus AKDP, namun jika kau menggunakan truck fuso seperti yang kau lakukan selama ini, pastinya jarak itu akan menjad 4 kali lipat joe.

Sumber: Dok. pribadi (Masjid agung Al-Muwahiddin bima yang terbengkalai dan sedang di rehab, salah satu landmark bima)

Continue reading Joe, Aku Masih Bercerita Untukmu Sahabat

Advertisements

JURNAL PERJALANAN PENDAKIAN TAMBORA VIA JALUR MAKAM

LAPORAN PERJALANAN PENDAKIAN TAMBORA VIA JALUR MAKAM.

A post shared by la hila (@gizan__) on

Tanggal 13 april, chema datang melalui jalur udara dari banjarmasin menggunakan pesawat lion air dengan transit di bali, di jemput oleh ganja di bandara dan langsung menuju kota bima untu istrahat, namun sebelum sampai di tempat penginapan, menurut ganja, mereka makan siang dahulu di seputaran amahami dengan menu khas bima berupa sayur bening daun kelor dan ikan teri serta “docco”, pada jam 3 sore, mereka menuju ke sebuah penginapan di kota bima, chema menginap di tempat penginapan tersebut, dan ganja kembali ke mangga3.

Malam tanggal 13 april, cecep tiba di bima menggunakan jalur darat dari terminal mandalika lombok menuju terminal dara kota bima, lama perjalanan sekitar 12 jam, cuaca penyebrangan sangat bersahabat dan kecepatan bus yang di tumpangi cukup stabil sehingga para penumpang tidak meraksakan hal-hal yang aneh didalam bis semisal mabuk perjalanan atau yang lainnya.
Continue reading JURNAL PERJALANAN PENDAKIAN TAMBORA VIA JALUR MAKAM

Madapangga, kisah para satwa yang mulai hancur.

Di homepages umalengge.com saya sempat menulis tentang madapangga, dalam waktu bersamaan juga saya kepikiran untuk menulis di blog pribadi saya, ya walaupun saya bisa mengatakan bahwa umalengge.com juga merupakan blog pribadi juga atas nama komunitas panggita mbojo sebenarnya, tapi tak apalah, saya double menulis tentang madapangga.
Di blog saya ini saya akan menulis tentang nasib satwa yang ada di madapangga, baik jenis aves, reptile dan mamalia nya, waoooo ada 3 jenis yang harus saya deskripsikan sesingkat mungkin rupanya, saya akan coba dahulu satu persatu, lumayan panjang juga untuk pembahasan ini jika saya uraian secara lengkap mengenai satwa di madapangga ini.

panas, madapangga
panas, madapangga

Saya telah merancang sebuah buku pandauan burung untuk wilayah madapangga, dan itu merupakan sebuah hutang bagi saya pribadi untuk menyelesaikannya, menyelesaikan dalam waktu secepat mungkin karena laju kepunahan satwa di madapangga sangatlah cepat, dibanding dengan laju pertumbuhan pohon dan perkembang biakan satwa yang ada di madapangga sendiri.
Continue reading Madapangga, kisah para satwa yang mulai hancur.

ecowisata kaowa

Mungkin terlalu naif ketika pribadi saya mengungkapkan ECOWISATA KAOWA, ya itu terlalu naif bagi saya, namun itu cita-cita saya untuk sebuah desa di atas gunung sana, desa yang begitu ramah terhadap kedatangan para tamu, desa yang masih memiliki beberapa tradisi suku mbojo, desa yang memiliki cerita tersendiri dalam kehadiran dana mbojo.

salah satu pemuda yang peduli terhadap kelangsungan ekosistim desa kaowa
salah satu pemuda yang peduli terhadap kelangsungan ekosistim desa kaowa

Banyak yang mengatakan bahwa Ecowisata di bima pada umumnya hanyalah sebuah khayalan tingkat tinggi yang tidak akan bisa di gapai dalam 10 tahun kedepan, namun bagi saya (pribadi) itu mungkin saja bisa lakukan, kesadaran masyarakat bima pada umumnya tentang penggunaan lahan dan pembukaan lahan baru di beberapa bukit yang ada sudah semakin berkurang (katanya).
Continue reading ecowisata kaowa

Masih ada panas di Toro Doro

Jam 11 malam, perjalanan dari daerah pusat pemerintahan kabupaten Dompu menuju selatan Dompu, tepatnya arah Lakey Peak atau pantai lakey yang berhadapan langsung dengan samudera selatan, tujuan utamanya bukan ke pantai Lakey, namun ke salah satu spot Mata Air Panas Bumi yang berada di perbatasan Dompu dan Kabupaten Bima, tepatnya di daerah Nanga Doro atau masyarakat setempat menyebutnya Oi Pana.
Dalam bahasa indonesia, Oi Pana adalah Air Panas, salah satu keajaiban yang ada di wilayah dompu bagian selatan yang berjarak 1 jam perjalanan dari wilayah pusat pemerintahan kabupaten Dompu.

Kubangan Air tawar diatas sumber mata Air Panas Bumi di Nanga Doro / Toro Doro / Oi Pana

Ketika sampai di lokasi Sumber mata Air panas Bumi tersebut pada jam 5 pagi, kami sebelumnya mendirikan tenda di atas lokasi tersebut, di sebuah bbukit yang menghadap langsung ke lautan lepas bagian selatan atau samudera selatan, pemandangan malam ketika bulan mati merupakan satu keajaiban tersendiri, langit bertabur bintang, galaksi bimasakit yang nampak jelas dan bagi yang ingin memanaskan sensor kamera DSLR atau SLT atau Mirrorlesnya bukit tersebut adalah salah satu spot yang sangat tepat untuk menyiksa sensor kamera anda.
Continue reading Masih ada panas di Toro Doro

Garam, Asin dan Bima

Indonesia merupakan negara kepualauan, otomatis di kelilingi oleh lautan dan teluk yang sangat indah, namun dibalik itu semua, ada satu rahmat tuhan yang sering di manfaatkan oleh manusia untuk membantu dan membuat masakan jadi nikmat “Garam”, ya dalam bahasa bima, Garam adalah “Sia”, namun jangan mengucapkan kata “sia” kepada seseorang yang sedang berbicara dengan kita, karena makna kata “sia” bukan hanya untuk garam, namun kata “sia” bisa berarti “dia”, jika ditambah dengan “doho” maka berarti “mereka”, itu konteks percakapan dengan orang dan sedang membicarakan orang lain.
dahulu, garam merupakan barang sakral (setidaknya), namun sekarang di Bima akan sangat mudah mendengar kata “sia sia siaaa, sampuru riwu sakampi, siaaaaa” yang artinya adalah “garam garam garaaaam, sepuluh ribu satu karung, garaaaaaam” kata tersebut keluar dari speaker toa dari mobil pickup atau mobil bak terbuka yang berkeliling dari pelosok ke pelosok Bima untuk menawarkan garam ke tiap penduduk.

Garam segar yang di produksi secara tradisional di wilayah Kec. Woha dan Bolo Kab. Bima

Menurut sebuah referensi, pembuatan garam dilakukan di tambak, Tambak Garam adalah kolam dangkal buatan yang dirancang untuk menghasilkan garam dari air laut atau air asin lainnya. Air laut atau air garam dimasukkan ke kolam besar dan air dipisahkan dengan garam melalui penguapan alami yang memungkinkan garam untuk dipanen. Selama lima tahun yang dibutuhkan bagi air teluk untuk benar-benar berubah menjadi air garam, air tersebut dipindahkan dari satu kolam penguapan ke kolam yang lain. Pada tahap akhir, ketika air garam sepenuhnya jenuh, ia dipompa ke Crystalizer di mana hamparan garam setebal 5 sampai 8 inci siap dipanen.
Continue reading Garam, Asin dan Bima

Mbawa, Ncuhi dan Donggo

sunrise [at] Uma Ncuhi / Uma Leme

masih tentang bima, negeri para raja yang menjunjung tinggi adab agama, negeri yang masih menjunjung tinggi tata krama adat istiada kepada manusia dan Tuhan.
Berbicara mengenai kerajaan bima dalam kontaks sejarah, saya bukanlah pakarnya, saya bukanlah mengetahui sedikit dari sejarah tersebut, namun saya penikmat keindahan yang ada di bima ini, ya walaupun di bilang bahwa bima ini bukan kategori “fotogenik” atau yang biasa di katakan oleh kawan saya “mengambil foto pemandangan di bima sangat susah untuk terlihat cantik, namun mengambil foto yang ada di daerah lombok sangat mudah untuk mendapatkan foto yang cantik karena sudah foto genik” itu kata kawan saya.
Namun bagi saya, ada tantangan tersendiri ketika mengambil pemandangan yang ada di bima, salah satunya adalah di daerah Mbawa tepatnya di UMA NCUHI / UMA LEME. butuh waktu yang sangat tepat untuk mendapatkan warna yang pas, dan butuh hari yang tepat untuk mendapatkan cahaya yang tepat.
Continue reading Mbawa, Ncuhi dan Donggo

Belajar, Berjalan, Abadikan, Nikmati

%d bloggers like this: