JURNAL PERJALANAN PENDAKIAN TAMBORA VIA JALUR MAKAM

LAPORAN PERJALANAN PENDAKIAN TAMBORA VIA JALUR MAKAM.

A post shared by la hila (@gizan__) on

Tanggal 13 april, chema datang melalui jalur udara dari banjarmasin menggunakan pesawat lion air dengan transit di bali, di jemput oleh ganja di bandara dan langsung menuju kota bima untu istrahat, namun sebelum sampai di tempat penginapan, menurut ganja, mereka makan siang dahulu di seputaran amahami dengan menu khas bima berupa sayur bening daun kelor dan ikan teri serta “docco”, pada jam 3 sore, mereka menuju ke sebuah penginapan di kota bima, chema menginap di tempat penginapan tersebut, dan ganja kembali ke mangga3.

Malam tanggal 13 april, cecep tiba di bima menggunakan jalur darat dari terminal mandalika lombok menuju terminal dara kota bima, lama perjalanan sekitar 12 jam, cuaca penyebrangan sangat bersahabat dan kecepatan bus yang di tumpangi cukup stabil sehingga para penumpang tidak meraksakan hal-hal yang aneh didalam bis semisal mabuk perjalanan atau yang lainnya.

Malam tanggal 13 april jam 22.00 WITA, chema dan cecep, ganja, tpal, jarwo dan saya duduk di mangga3 bertukar cerita seputar perjalanan dan aktifitas keseharian, saling berbagi cerita merupakan hal yang pasti ketika semua orang yang baru datang ke bima dan masuk ke mangga3, dari situ mulai saling mengenal satu sama lain dan mulai bertukar pikiran serta bertukar ide antara satu dengan yang lain untuk perjalanan di hari berikutnya menuju tambora. Malam itu, cerita di akhiri sampai jam 24 karena harus istirahat untuk memulihkan tenaga guna persiapan perjalanan ke tambora tanggal 14 april 2017.
Pada 14 april 2017, pagi hari jam 7.00 semua sudah berkumpul di mangga3, yang akan melakukan pendakian gunung tambora pada kesempatan ini adalah : cecep, chema, jarwo, sistim, ganja dan saya gizan. Semua bersiap dengan bekal masing-masing, untuk bekal bersama ketika perjalanan menuju tambora nanti akan di siapkan di dompu, karena kami berencana akan singgah di dompu untuk melakuan sholt jum’at disana dan sekaligus melakukan persiapan perbekalan bersama untuk perjalanan nantinya.
Jam 10.00 perjalanan dimulai, mengambil titik start di mangga3, kami menuju dompu dengan menggunakan mobil yang dikemudikan oleh saya sendiri, laju mobil di angka 70 Km/jam dan sampai di dompu pada pukul 11.15 WITA. Kami beristirahat di markas PJ (panti Jomblo) yang merupakan markas bersama team KI (kelas insipirasi) dompu dimana dimarkas PJ ada : dae han, ben dan beberapa anggota lainnya.
Jam 13.15 saya dan kawan-kawan yang melakukan perjalanan menuju tambora, melanjutkan perjalanan menuju tambora, namun sebelumnya, kami singgah terlebih dahulu di rumah om komeng untuk meminjam beberapa peralatan dokumentasi serta bersapa ria dengan seorang kawan dari jakarta yang datang untuk berlibur di dompu, catur wulan namanya, setelah di suguhi makan siang dan berbincang ria, kami melanjutkan perjalanan dan singgah di depstore wilayah dompu untuk berbelanja bahan kebutuhan bersama untuk perjalanan ke tambora. Selain snack dan bahan makanan lainnya, kami juga dibekali dengan bahan sayur mayur yang dibawa oleh seorang sahabat, nisa si ners cantik.
Jam 13.40 selepas melakukan belanja di depstore, melanjutkan perjalanan mEnuju calabai, sebelum sampai di calabai, jam 15.40 kami singgah di area savana doro ncanga, selain puncak tambora, savana coroncanga merupakan salah satu magnet penarik wisatawan untuk berkunjung ke wilayah dompu, savana yang luas merupakan sebuah anugerah terbaik yang tuhan berikan kepada dompu, pengembala sapi dan kerbau begitu leluasa melepas ternak mereka tampa merasa khawatir ternak mereka pergi sangt jauh dan tidak bisa di kontrol. Cecep berkata kepada saya : ini baluran versi bima ya zis. Sayapun berkata : mungkin bro, secara aku belum pernah ke baluran, yang Aku tau tentang baluran hanya di beberapa sosial media yang di share oleh kawan-kawan, cuman di sini tidak ada merak, yang ada sapi, kerbau, kera, kambing dan beberapa reptil yang tidak kelihatan.

Semalam cukuplah selembar saja Diam dan mulai menulislah Bukankah inginmu menjadi pujangga Yang dipuja dan di elukan penikmat guratan Usah membuat mereka menggugurkan embun dari ujung daun mata Karyalah indah seperti lukisan warna-warni pelangi lengkung di bibir senja Harapan nyata dari semu ketakjuban mereka tidaklah mengada-ada Terbersit ingin melihatmu menjelma arjuna atau srikandi di kasat mata Pujangga dan jubah gelapnya, mengibaskan dan mengibarkan teriring hembus angin samudera Mengeringkan liur dari mulut-mulut kering menganga Mengusap lembut air mata mereka dengan kata petuah Menebus semua pengorbanan mereka, dengan janji-janji indah tarian liar jemarinya #ful2017 #tamboraindonesia #tambora #mount #pinus #cemara #fog #dark #dream #misshem #rindu #sajakmalam #pejalan #pesonabima #wonderfulbima #jelajahbima #eksplorbima #eksplornusantara #pesonanusantara #pendakiindonesia #pendakicantik #pendakirindu #pendaki #jalanjalan #pesonatambora #jalanjalan

A post shared by la hila (@gizan__) on

Jam 16.10 kami keluar dari savana untuk melanjutkan peralanan ke wilayah calabai dan singgah di rumah om cris, om cris merupakan salah seorang penjaga pantai dan pembuka jalur pendakian wilayah tambora, beberapa jalur adalah rintisan beliau bersama team kompak (kelompok pecinta karang dan penyu) calabai, aktifitas utama beliau saat sekarang adalah guide wilayah laut calabai, beberapa spot idaman wisatawan ada dibawah naungan beliau, dan salah satu spot surga wilayah calabai adalah spot snorkeling tower yang berjarak sekitar 5 menit menggunakan boat dari dermaga calabai, selain itu, spot mancing di wilayah satonda, spot penyu di sekitar dermaga calabai adalah spot-spot wisata yang dikelola secara mandiri oleh KOMPAK calabai, ketika berkunjung ke wilayah tambora, ada baiknya singgah di rumah om chris, karena banyak informasi menganai tambora yang di ketahui oleh om chris, mulai dari jalur sampai dengan cerita tentang tambora.
Di tempat om chris, kami di susul oleh tpal dan arif, mereka berdua menggunakan motor dan ikut dalam pendakian ini juga.
Jam 18.20 setelah packing semua peralatan dan kebutuhan pendakian, kami melanjutkan perjalanan menuju desa pancasila, desa pancasila adalah desa gerbang dari jalur pendakian menuju puncak tambora, selain jalur pancasila, ada beberapa jalur yang bisa digunakan untuk melakukan pendakian menuju puncak tambora, namun jalur pancasila adalah jalur pendakian menuju top dari gunung tambora, jalur doroncanga hanya sampai bibir kaldera tambora, jalur piong pun merupakan jalur yang hanya sampai di bibir kaldera, jadi hanya jalur pancasila yang merupakan jalur yang bisa di tempuh untuk bisa sampai di top tambora.
Jam 18.50 kami tiba di desa pancasila dan melapor diri di bascamp pendakian, jumlah team pendakian ini 9 orang, saya, chema, cecep, desi, jarwo, ganja, sistim, arif dan tpal.
Jam 19.00 kami memamulai perjalanan pendakian tambora, melewati gerbang perbatasan bima dompu dan memasuki daerah kebun kopi hingga sampai di pasanggarahan di tengah-tengah lahan kebun kopi, sebelum sampai pasanggrahan, sistim sudah mulai terlihat kecapaian dan beristirahat di baruga warga yang berada di pinggir jalan ekonomi. Melanjutkan perjalanan lagi dan kami sampai di portal atau gerbang hutan tambora, bertemu dengan team pendaki dompu, sebeluum sampai di pintu gerbang hutan, kami beristirahat sejenak di pintu gerbang pasanggarahan untuk melepas lelah.
Di pintu gerbang hutan, ada beberapa orang team kami yang ingin memilih untuk menginap di tempat tersebut karena merasa kecapaian, namun ada beberapa orang yang ingin tetap melanjutkan perjalanan menuju pos 1 jalur pendakian pancasila karena memang waktu yang tersedia cukup singkat untuk mencapai puncak nantinya, jika di pilih untuk menginap di pintu gerbang hutan, maka besoknya pasti akan sangat capai untuk melanjutkan perjalanan menuju pos 3 sebagai tempat istirahat sebelum summit, akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju pos 1 pada jam 8 malam walaupun masih terlihat capai dan lelah dari beberapa anggota kami.
Kami menjejali setiap langkah menuju pos satu, dengan penerangan seadanya, baik dari senter handphone dan senter korak api gas yang di bawa oleh setiap orang, jalur yang bisa dikatakan sangat mudah sebelum sampai di jalanan yang bersemen tepat setalah pintu hutan, tidak begitu licin dan tidak begitu kering, sepanjang perjalanan, banyak canda tawa yang dilontarkan oleh kawan-kawan untuk melepas lelah.
Setengah perjalanan, sistim sudah sangat kecapaian, memilih jalan terakhir di temani saya dan ganja, cecep menjadi leader untuk team yang dahulu menuju pos 1, sistim memilih istirahat di tengah perjalanan dan rebahan, jarak dari tempat istirahat sistim ke pos 1 sekitar 10 menit jalan tampa membawa beban, saya menemani sistim istirahat, ganja dan jarwo melanjutkan menyusul team pertama menuju pos satu, jam 11 malam ganja kembali ke tampat saya dan sistim istrirahat bersama satu orang yang dari desa pancasila, dibantu oleh ganja dan saya, sistim melanjutkan perjalanan menuju pos 1 jalur pancasila.
Jam 12 semua team istirahat, di pos 1 jalur pancasila pada saat itu, ada beberapa team, teamm dari sape lanta yang terdiri dari 3 cewek dan 4 cowok, team dari dompu yang terdiri dari 4 cowok, dan team kami, team yang dari dompu merupakan team yang melakukan perjalanan turun, team dari sape lanta merupakan team yang akan naik di puncak tambora. Malam itu sebelum istirahat, team kami dan team lanta yang pada awalnya sudah tidak sanggup lagi untuk melanjutkan perjalanan pendakian di ceramahi oleh ganja, bahwa peralanan ke puncak adalah sebuah proses, layaknya hidup, sangat susah, namun ketika sudah berada di puncak, semuanya akan terasa nikmat, akhirnya team sape lanta memilih untuk melanjutkan perjalanan esok hari menuju puncak.

Saya dan team jam 5 subuh sudah bangun dan bersih-bersih diri, di pos 1 tambora ada bak penampungan air yang disediakan oleh warga sebagai bak penampung sebelum dialirkan lagi dengan pipa PVC menuju pemukiman warga yang berada di kebun kopi, dengan adanya penampungan sementara ini maka pendaki tidak perlu khawatir kekuarangan air ketika berjalan menuju top tambora.
Memasak makanan pada am 6 pagi dilanjutkan dengan sarapan bersama, mengisi waktu di sela masakan matang, beberapa dokumentasi di ambil pada saat itu, baik suasana disekitar tenda dan lain sebagainya, jam 8 pagi, saya dan team melakukan perjalanan lanjutan menuju pos 2 jalur pendakian pancasila.
Saya dan afran mengambil jarak dengan team untuk melakukan beberapa pendataan satwa di sepanjang jalur pendakian, ada beberapa satwa yang bisa kami data pada saat itu diantaranya :
1. ayam hutan hijau
2. nuri pipi merah
3. uncal buau
4. walik kepala putih
5. wiwik uncuing
6. kacamata wallacea
7. kacamata gunung
8. sepah kerdil
9. elang bondol
10. elang flores (record sindikat jalur pancasila)
11. elang laut perut putih
12. alap-alap sapi
13. kancilan emas
14. cakakak tunggir putih
15. kipasan flores
16. tiung batu
17. pelatuk / caladi tilik
18. cikrak
19. kehicap ranting
20. bentet kelabu
21. perling kecil (record baru untuk sindikat)
22. cikakua tanduk
23. isap madu matari
24. cabai dahi merah
25. delimukan jamrud
26. perkutut loreng
27. tekukur biasa
28. walik rawamanu
29. bubut alang-alang
30. babi hutan
31. walet sapi
32. walet polos
33. cekakak sungai
34. kirik-kirik laut
35. paok laus
36. kepudang sungu sumba (betina)
37. srigunting wallacea
38. cucak kutilang
39. kapasan sayap putih
40. kekep babi
itu merupakan beberapa satwa yang kami temukan dan kami identifikasi di sepanjang jalur pendakian dari pos 1 menuju pos 2 jalur pendakian pacasila, pendataan kami lakukan secara acak dan dibantu dengan pengambilan beberapa contoh spesies satwa tersebut, untuk elang flores, ditemukan oleh afran pada saat kembali dari pos 2 menuju pos 1 pada jam 10 pagi sedang bermain bersama dengan elang bondol dan elang laut perut putih.
Pada sisi jalan yang kami lalui saat pendataan, terdengar suara burung paruh bengkok, entah itu jenis kakak tua atau jenis lain, kami belum bisa mengidentifikasi secara baik untuk suara dari jenis tersebut dan secara visual kami belum bisa menemukan tanda-tanda keberadaan kakak tua di sekitar jalur pendakian.
Jika berbicara mengenai satwa yang ada di jalur pendakian tambora jalur pancasila, ada banyak jenis satwa yang bisa di visualkan, namun lebatnya hutan menimbulkan satu masalah baru untuk visual yang jelas sehingga hanya bisa mengidentifikasi melalui suara.
Afran kami tinggalkan di pos 2 jalur pendakian pacasila dan kami melanjutkan perjalanan menuju pos 3 setelah beristirahat di pos dua dan membuat kopi, di pos 2 arif melakukan dokumentasi nature dengan mengambil objek sungai yang melewati jalur pendakian, air yang begitu dingin dan suasana hutan yang masih bisa dibilang sejuk merupakan salah satu daya tarik tersendiri melakukan pendakian melalui jalur pancasila.
Dari pos 2 ke pos 3 membutuhkan waktu sekitar 3 jam perjalanan dengan kondisi jalan tracking (menanjak landai) tidak banyak bonus (jalan datar) yang ditemui dari pos 2 ke pos 3, namun suasana yang rimbun di sepanjang perjalanan membuat setiap pendaki tidak begitu merasa capai untuk mencapai pos 3 jalur pendakian tersebut.

Jemari fajar mengetuk jendela, kicau murai menyiulkan dongeng tentang Pagi yang tak pernah sepi, anak-anak langit berkelana memburu rindu. Mentari belum tinggi, aku terus mereka wujudmu tanpa malu. Mentari mengulum senyum menawan, membangunkan lelapku perlahan. Hangatnya masih sama, meski pagi kemarin ia menangis terluka Kasih, umpama daun-daun, rindu dibelai embun, aku ingin melihat senyummu, membasuh kalbuku. Pagi telah meniup setiap kelabu menjadi hujan yang menggenangi kalbu; seribu rindu yang kutitipkan pada langit malam. Cumbui aku, seolah esok tak ada. Biarkan surya cemburu, sebab dekapmu, melebihi hangat sinarnya. Ada sisa hujan, menggenangkan kenangan di pagi yang lengang. Dan aku memahat bayangmu di langit yang terang. Tak ada yang lebih puisi dari mentari; mendegupkan debar dalam dada, celupkan asa di getar jiwa, menjiwai pagi tanpa luka. =kaldera tambora= #mount #mountains #dream #parapendaki #pendakiindonesia #tambora #ful2017 #pesonaindonesia #jelajahbima #jelajahtambora #tamboraindonesia #bima #dompu #lombok #labuanbajo #bali #visiti donesia #visitbima #jelajahlabuahbajo #labuabao #indonesia #pesonabima #pesonanusantara #parapejalan #petualang #petualangcantik #petualangindonesia #smoke

A post shared by la hila (@gizan__) on

desi, cheema, ganja, jarwo berjarak sekitar 20 menit dari cecep dan saya, sistim memilih balik ke bascamp dari pos 1, saya dan cecep memang sedikit terlambat karena merasa capai dalam perjalanan tersebut, saling bergantian membawa cariel yang berisi tenda dan sleeping bag serta air dalam kemasan 1600Ml sebanyak 5 botol, lumayan berat, namun itu perlu.
Di pos 3 pendakian kami beristirahat sejenak sebelum melajutkan perjalanan menuju pos 4, jam menujukkan pukul 3 sore dan kami melanjutkan perjalanan menuju pos 4, jarak dari pos 3 ke pos 4 membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam perjalanan dengan medan tracking, di sepanjang perjalanan dari pos 3 ke pos 4, kendala yang ditemui adalah tumbuhan jelateng, ada manfaat tumbuhan tersebut ketika dingin area pegunungan muai dirasakan, dan ada tidak enaknya juga, namun kebanyak tidak enak (saya secara pribadi sangat menghindar dari tumbuhan jelateng).
Pacet masih berada di kaki, pendakian di jaluur pancasila selain jelateng adalah pacet, kata ceep, hitung-hitung donor darah sama meraka tidak apa-apa, yang penting jangan banyak-banyak. Di pos 4 jam menujukkan pukul 5.30 sore dan kami melanjutkan perjalanan menuju pos 5, jarak dari pos 4 ke pos 5 sekitar 1 jam perjalanan dengan kondisi tracking melewati hutan pinus dan sedikit alang-alang (kebanyakan pohon pinus).
Jam 6.30 kami sampai di pos 5 dan langsung menuju aliran sungai yang berada dibawah jalur pos 5 untuk istrahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan menuju bascamp summit di bawah makam. Masak-memask adalah hal pertama yang dilakukan, selain memanaskan air untuk pembuatan kopi dan the, masak nasi dan lauk pauk dilakukan juga, area sungai tersebut ternyata sangat dingin karena pada saat itu, angin gunung mulai turun sehingga hawa dingin sangat terasa, menyalakan api di bibir sungai di adalah pilihan kami selain melakukan aktiftas memasak.

foto keluarga di pos 5 jaluur makam, sungai yang menjadi tempat kebutuhan air, pada malam hari udara sangat dingin, namun pada siang hari, udara terasa sejuk, di sela pohon cemara…
kiri ke kanan : ireks, jarwo, ganja, desi, cheema, cecep…dan tukang foto adalah saya 😥

Jam 8 malam, saya dan team memulai pendakian menuju pos terakhir dibawah makam untuk camping ground sebelum melakukan summit pada jam 2 pagi, perjalanan dari pos 5 ke campground memiliki alur menanjak, desi, chema, ireks mulai kelelahan di setengah perjalanan, saya, ganja, cecep dan jarwo masih 70% tenaga mecapai campground. Jam 10 malam kami sampai di campground, membutuhkan waktu sekitar 2 jam perjalanan, terasa lama perjalanan pada saat itu padahal jarak dari pos 5 ke campground sekitar 5 KM namun semua pada kelelahan sehingga perjalanan membutuhkan waktu sekitar 2 jam. Tenda di dirikan sebanyak 3 buah, satu buah untuk desi dan chema dan dua buah untuk yang lelaki. Jam 1 malam satu tenda di serang oleh babi hutan, dengan mencoba menggigit cariel desi untuk mengeluarkan bahan makanan yang ada, namun kawan-kawan cepat tanggap dengan kehadiran babi hutan tersebut sehingga cariel desi terselamatkan dari gigitan babi hutan tersebut, namun bahan makanan yang ada didalamnya berhasil di ambil alih oleh babi hutan, telur dan beras.
Dari kejadian itu, sebelum melakukan summit jam 3 malam, kami menempatkan semua barang-barang dan tenda di atas pohon untuk menjaga serangan babi hutan lagi ketika kami melakukan summit top tambora. Perjalanan jalur makam menuju top tambora memang sangat pendek, namun menyita tenaga yang sangat besar karena jalur yang begitu menanjak. Team lambu sape ada yang sampai menangis ketika perjalanan sudah 80%, “ayahku sudah melarangku untuk naik tambora, namun akunya bang yang sangat ngeyel dan ingin, mending aku pulang bang sekarang” “ga boleh kayak gitu, itu tinggal sedikit lagi puncaknya, ayo, nikmati prosesnya, kau akan merasakan pemandangan yang sangat berbeda jauh ketika kau sudah berada di puncak nanti, ayo aku tuntun kau ke atas”, dengan menggandeng tangannya, aku mencoba menarik dia menuju keatas kaldera tombora, sesekali beristirahat dan mencoba menghiburnya agar bisa menyelesaikan misi pendakiannya dan akhirnya dia sampai di kaldera tambora dengan selamat dan tersenyum puas.
Cecep melakuakn sholat subuh di bibir kawah tambora, jam sudah menunjukan pukul 5 subuh, cahaya jingga nan elok sudah muncul di ufuk timur, sungguh menggoda mada untuk tidak beranjak dari bibir kaldera, banyak gambar yang dihasilkan di bibir kaldera, cheema dan cecep sampai di kaldera tambora dan langsung duduk bersimpuh mengucapkan sukur, suasana tidak terlalu dingin pada saat itu dan sangat cerah, kabut belerang juga tidak naik pada saat itu sehingga kami bisa sangat menikmati keindahan kaldera tombora.
Desi dan jarwo memilih menuju puncak terlebih dahulu, jam 7 pagi, saya, desi, ganja, chema dan cecep menuju puncak tambora, dari bibir kawah ke puncak tambora hanya membutuhkan wakt 10 menit, di puncak tambora kami semua bersyukur telah melewati semua jalur pendakian dan sampai dengan selamat di puncak, tinggal bagaimana kembali ke campground dan bascamp yang menjadi permasalahan.
Jam 9 pagi, kami turun ke campground untuk kembali ke bascamp, asap belerang sudah mulai tercium di bibir kawah tambora, namun cuaca masih bersahabat, saya menyempatkan diri mengambil beberapa gambar lagi tepat di cemara tunggal bibir kaldera dengan properti belati dan sarung yang saya bawa, bagi saya, puncak bukan sebuah tujuan ketika melakukan aktifitas pendakian, namun lebih pada proses mencapai puncak itulah yang benar-benar saya nikmati.
Di campground kami mengambil kembali barang-barang kami yang kami letakkan di atas pohon, semuanya selamat, dan kami melanjutkan perjalanan kembali ke pos 5, di pos 5 jam 11 siang, kami memasak makanan, beras kami dapatkan dari team lambu sape yang berbaik hati membaginya untuk bahan makanan kami, selain beras snack dan sedikit gula juga kami dapatkan untuk membuat kopi, selesai mengisi tenaga, jam 12 kami melanjutkan perjalanan menuu pos 4 dan pos 3, di pos 3 kami beristirahat sejenak melepas lelah.
Cheema dan desi mulai merasakan kakinya melepuh dan sakit, namun kami mencoba untuk menyemangatinya untuk bisa sampai di bascamp pada hari itu juga, karena besoknya, mereka harus kembali melakukan aktifitas meraka di beberapa instansi, cecep harus kembali ke lombok juga esok harinya.
Jam 4 sore, kami sampai di pos 2, dan bertemu lagi dengan team lambu sape yang sudah mendirikan tenda untuk camp, namun kami mencoba memberi masukan lebih baik mereka melanjutkan perjalanan sampai di pos 1 untuk camp disana daripada di pos 2 karena memakan waktu yang cukup lumayan.
Jam 4.30 kami malanjutkan perjalanan menuju pos 1, jarwo mengalami kendala di kakinya, kakinya melepuh karena mengunakan sepatu ketika melakukan jalan pulang dan terpaksa menggunakan sandal jepit untuk melanjutkan perjalanan menuju bascamp, di pos satu kami bertemu dengan tpal12 (afran) yang kami tinggalkan di pos 2 ketika melakukan perjalanan menuju top tambora, bersama kami menuju bascamp, ada beberapa orang yang sudah mulai kewalahan dari pos 1 menuju bascamp ini, chema dan desi sudah bisa menahan sakitnya kaki mereka, jarwo sudah diambang batas, ireks mulai kewalahan, saya dan cecep serta ganja masih ada tenaga.
Saya dan afran memilih untuk berjalan lebih dahulu, ketika matahari benar-benar sudah tidak ada, kami menggunakan senter dari korek api yang dibawa oeh tpal, bermodalkan itu kami menyusuri jalanan dari ujung kebun kopi menuju portal, ternyata jalan yang kami lalui tidak sama dengan jalan yang kami gunakan ketika melakukan pendakian, jalan memutar sebealhs elatan, salahnya saya dan tpal yang memilih jalan karena kekurangan cahaya, harusnya ambil kanan, namun kami ambil kiri, dan team yang belakang mengikuti jalan kami, terasa aneh oleh saya, kenapa jalan yang kami tempuh ini sangat berbeda, namun tpal meyakinkan bahwa jalan itu tetap akan sampai di portal, saya melanjutkan perjalanan, kondisi jalan yang sangat berlumpur karena dilalui oleh kendaraan roda dua yang mengambil hasil hutan untuk dibawa ke bawah memaksa saya dan tpal membuka sandal dan jalan dengan kaki kosong, namun alhamdulillah kaki kami selamat dari tusukan sisa-sisa kayu yang berserakan di tanah, sedangkan team yang dibelakang sedikit mengalami kewalahan karena kekurangan cahaya untuk berjalan.
Saya dan tpal sampai di seberang portal, masih meraba-raba saya dengan keadaan yang ada, sambil menunggu team yang belakang sampai di tempat tersebut akhirnya saya gunakan untuk istirahat sejenak, 10 menit mereka sampai di tempat kami, kami langsung melanjutkan perjalanan kembali ke portal, sampai di portal, kami istirahat, kaki chema dan desi sudah tidak bisa diajak kompromi, cecep masih kuat, saya dan tapal serta ganja masih aman, jarwo sudah mulai kewalahan karena kakinya, ireks masih 40% tenaganya, beristirahat sekitar 20 menit di baruga portal, kami malajutkan perjalanan kembali ke bascamp, jalan yang sungguh menyiksa rasanya, kaki sudah tidak mau berkompromi karena sakitnya minta ampun, chema sudah di tuntun langkahnya oleh cecep dan tpal, ganja dan irek dibelakang, jarwo, desi dan saya di depan, desi sudah menyeret kakinya, saya sudah tidak tahan lagi ingin istrahat, namun saya mencoba untuk menyemangati diri, selain desi yang ada di samping saya yang sudah tidak kuat mengangkat kaki, jarwo yang begitu lelah dan yang lainnya begitu lelah juga, kami sampai di bascamp desa pancasila jam 11 malam, beristirahat adalah pilihan utama, namun kami harus memaksakan diri untuk sampai di bima malam itu juga, jam 11.40 kami menuju dermaga calabai, saya driver pertama malam itu, walau badan lelah tak beraturan dan mata sungguh ngantuk, saya memaksa, di dermaga calabai, kami mengembalikan barang-barang om crhris, dan memilih kembali ke bima pada jam 12 malam, perjalanan dari dermaga calabai ke bima sungguh luar biasa, adrenalin di pacu habis walau sangat lelah, seed mobil tidak bisa dipacu lebih dari 60Km/jam karena kawaatir badan sangat lelah ahirnya kecelakaan, ireks dan tpal menggunakan motor dan memilih untuk kembali ke bima ke-esokan harinya.
Saya sudah lelah benar, 2 kali mata tertutup di jalan, akhirnya cecep berganti menjadi drive di doropeti, saya beristirahat di belakang, ganja sebagai navigator malam itu, jam 3 pagi, kami bergantian lagi di cabang manggelewa, besnin mobil menunjuk jarum pertama, tanda bahan bakar menipis, tenaga terkumpulkan sedikit saya memacu mbil untuk sampai di kota dompu, ganja sebagai navigator memilih untuk istirahat sejenak, di dompu tidak ada pom yang buka pada jam 3.20 pagi, ahirnya saya mencoba memberanikan diri untuk sampai sila, sebelum masuk sila, dua kali saya terkantuk dibelakang stir mobil, karena lelah, namun saya paksa untuk terus melajukan mobil, kecepatan hanya sampai 50Km/jam, sebelum amsuk pom bensin sila, saya terkantuk lagi dan hampir keluar jalur di jalanan tersebut, di pom bensin sila, saya istirahat sejenak dengan mencuci muka dan bang air kecil, melanjutkan perjalanan ke bima kota dari sila pada jam 3.30 pagi dan sampai di mangga3 jam 4.20 pagi kami langsung istirahat.
Chema, dan cecep memilih langsung istirahat karena hari itu harus pulang ke tempat mereka di borneo dan lombok, desi jam 6 pagi harus masuk kerja di sebuah perusahaan swasta di bima, jarwo, ganja, dan saya memilih istirahat ful untuk memulihkan tenaga hari itu, jam 9 pagi, saya mengantar cecep ke terminal, dan mengantar cheema ke bandara, dua orang sahabat yang datang ke bima untuk menikmati alam bima yang begitu indah.
Memang benar kata orang-rang, pendakian puncak gunung adalah bukan tentang ketinggian yang dicapai, bukan seberapa kuat kita berjalan, bukan tentang aku, namun lebih dari itu, tentang proses, tentang persahabatan tentang kesetiaan, itulah pendakian yang sebenarnya.

Tambora adalah salah satu gunung di wilayah bima, dompu dan sumbawa, gunung tertinggi pada masanya yang mencapai ketinggian 4000an Mdpl, gunung yang begitu sepekatakuler ketika memuntahkan larvanya, dunia gelap seketika.
KAPAN KEMBALI LAGI SAHABAT, KITA UKIR CERITA KITA DI LAIN TEMPAT DI BIMA INI.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s