Madapangga, kisah para satwa yang mulai hancur.

Di homepages umalengge.com saya sempat menulis tentang madapangga, dalam waktu bersamaan juga saya kepikiran untuk menulis di blog pribadi saya, ya walaupun saya bisa mengatakan bahwa umalengge.com juga merupakan blog pribadi juga atas nama komunitas panggita mbojo sebenarnya, tapi tak apalah, saya double menulis tentang madapangga.
Di blog saya ini saya akan menulis tentang nasib satwa yang ada di madapangga, baik jenis aves, reptile dan mamalia nya, waoooo ada 3 jenis yang harus saya deskripsikan sesingkat mungkin rupanya, saya akan coba dahulu satu persatu, lumayan panjang juga untuk pembahasan ini jika saya uraian secara lengkap mengenai satwa di madapangga ini.

panas, madapangga
panas, madapangga

Saya telah merancang sebuah buku pandauan burung untuk wilayah madapangga, dan itu merupakan sebuah hutang bagi saya pribadi untuk menyelesaikannya, menyelesaikan dalam waktu secepat mungkin karena laju kepunahan satwa di madapangga sangatlah cepat, dibanding dengan laju pertumbuhan pohon dan perkembang biakan satwa yang ada di madapangga sendiri.

Ada 42 jenis satwa burung yang ada di madapangga (risilis terbaru team sindkat fotografer wildlife bima-dompu tahun 2015) dan itu merupakan keseluruhan dari satwa aves yang ada dimadapangga baik yang menetap dan migrasi (kedasi australia sempat terlihat di wilayah madapangga dan terdokumentasikan dengan baik), ditambah dengan adanya elang flores yang singgah untuk memantau wilayahnya. Pada saat saya menulis tentang artikel ini, lokasi saya berada di madapangga, duduk menikmati suasana sedikit rimbun pohon yang tersisa di temani oleh carut marutnya para monyet ekor panjang dan kicauan kacamata wallacea diatas kepala saya ditambah dengan suara burung pelatuk (kaladi tilik) yang sedang mencari makan disela ranting rapuh, saya tidak mendengar suara paok laus dan nuri pipi merah, hanya suara nectarian dikejauhan dan cabai dahi merah, saya juga tidak mendengar sura sriguting wallacea yang biasnaya sangat ribut di sekitar tempat duduk saya sekarang, hanya kupu-kupu raja yang berterbangan kesana kemari ditambah semut hitam yang mengerubungi gelas kopi saya.

mandi, seger???
mandi, seger???

Apakah satwa aves dari riliisnya team sindikat hoax semuanya? Atau jangan-jangan hanya sebagai ancang-ancang untuk membuat panas kuping sebagian orang, bagi saya pribadi, itu tidak menjadi masalah besar, semuanya sebenarnya ada di sini sesuai dengan rilis yang dikeluarkan oleh team sindikat, hanya saja memang saya yang salah waktu ketika datang kesini, jika ingin mendengar suara paok laus (pitta elegant) datanglah sebelum matahari terbit atau sesudah matahari tenggelam, jika ingin mendegarkan suara srigunting wallacea, datanglah ketika suasana sehabis hujan atau suasana masih berembun, jika ingin dengar suara lengkingan nuri pipi merah, datanglah ketika musim buah “na’a” dan “duwe wubba” sedang matang-matangnya, jika ingin dengar suara cabai dahi hitam, datanglah ketika musim pancaroba, namun setiap hari, kita akan di suguhi suara kacamata wallacea yang berdendang ria di sela semak-semak dan luput dari tangkapan warga untuk dijadikan burung kicau di samping rumahnya dengan kandang seadanya.
Selain satwa aves, jenis reprile yang ada di madapangga ada beberapa jenis, ular pucuk, insularis abolabris (varian hijau mata standar), sanca batik, ular siput (yang sampai sekarang belum saya temukan keberadaannya di madapangga hanya sebatas cerita warga lokal), insularis abolabris (varian warna kuning dan biru, dan masih keberadaannya belum terdeteksi karena hanya sebatas cerita warga juga yang pernah menemukan disekitar wilayah TWA ini dan merupakan jenis yang sangat berbisa dengan ukuran tidak lebih dari 50cm dan dikatakan bisa terbang, masyarakat menyebutnya “manena”).
insularis abolabris
insularis abolabris

Tetang kupu-kupu, banyak jenis yang ada di madapangga ini untuk persebaran kupu-kupu, saya tidak begitu hafal tentang jenis dan genus kupu-kupu, yang saya tau hanya kupu-kupu raja (karena pernah liat referensinya di TWA kerandangan kemarin dulu), ada yang warna kuning, ada yang warna warni, ada yang warna hitam, ada yang sekecil lidi, bahkan ada yang sebesar telapak tangan (mungkin yang besar ini adalah kupu-kupu raja), o iya, ada jenis lebah juga, namun tidak besar, masyarakat lokal menyebutnya “niti” atau lebah madu kecil yang bersarang di lubang pohon dan berwarna kuning kehitaman, besarnya sepangkal lidi.
TWA madapangga sebenarnya sebuah tempat yang istimewa untuk habitat satwa, saya bisa pastikan jika tempat ini dikelola dengan baik dan benar, akan sangat menjadi tempat yang bagus untuk kelangsungan hidup satwa, dikelola layaknya TWA-TWA lain yang ada di Lombok dan bali, dikelola secara profesional untuk PAD asli kabupaten bima dan BKSDA wilayah III bima-dompu, namun, ah sudahlah, ga usah dibahas.
Akasia, mahoni, sonekeling, salah satu dan dua jenis pohon keras yang ada di kawasan ini, ditambah dengan jambu air liar yang tumbuh di sembarang tempat sepanjang aliran sungai, duwett hutan sebagai bahan makanan para satwa, cahaya matahari yang pas untuk fotosintesis tumbuhan, dan tentunya keberagaman yang begitu kompleks.
reuni angkatan tahun 1980 MAN 1 Bima di TWA madapangga, masih ragu dengan PAD daerah ini jika dikelola dengan baik???
reuni angkatan tahun 1980 MAN 1 Bima di TWA madapangga, masih ragu dengan PAD daerah ini jika dikelola dengan baik???

Apakah sudah saya bahas tentang mamalia? Belum kayaknya, jenis mamalia yang ada di madapangga hanya kera ekor panjang, tidak ada yang lain, seluruh indonesia ada jenis tersebut, tidak ada yang spesial, namun sangat menggelitik untuk di telusuri kenapa monyet-monyet tersebut turun ke wilayah konserfasi ini dan bahkan sampai ke pinggir jalan sana serta sedikit mengganggu pengunjung TWA dengan kejahilan mereka, usut punya usut, ternyata hutan di bagian atas dari TWA ini sudah tidak ada, dijadikan sebuah lahan ladang oleh masyarakat, ladang jagung utamanya, pembukaan lahan baru yang tanpa kontrol pemerintah mengakibatkan kera ekor panjang turun sampai ke jalan utama untuk mendapatkan makanan dari pengendara yang melintas di jalur tersebut.
Tidak ada kata lagi yang pantas saya katakan untuk madapangga saat ini, menunggu waktu untuk hancur berantakan adalah kenyataanya, tampa disadari oleh kita semua, madapangga menjadi sebuah tempat sampah yang sebentar lagi akan menjadi tempat hunian manusia.
sumber mata air madapangga, sumber mata air....iya sumber mata air....sampah!!!!
sumber mata air madapangga, sumber mata air….iya sumber mata air….sampah!!!!

Selamat tinggal madapangga, good bye, semoga tuhan membalas semua kebaikanmu pada kami selama ini.

*gizan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s