Garam, Asin dan Bima

Indonesia merupakan negara kepualauan, otomatis di kelilingi oleh lautan dan teluk yang sangat indah, namun dibalik itu semua, ada satu rahmat tuhan yang sering di manfaatkan oleh manusia untuk membantu dan membuat masakan jadi nikmat “Garam”, ya dalam bahasa bima, Garam adalah “Sia”, namun jangan mengucapkan kata “sia” kepada seseorang yang sedang berbicara dengan kita, karena makna kata “sia” bukan hanya untuk garam, namun kata “sia” bisa berarti “dia”, jika ditambah dengan “doho” maka berarti “mereka”, itu konteks percakapan dengan orang dan sedang membicarakan orang lain.
dahulu, garam merupakan barang sakral (setidaknya), namun sekarang di Bima akan sangat mudah mendengar kata “sia sia siaaa, sampuru riwu sakampi, siaaaaa” yang artinya adalah “garam garam garaaaam, sepuluh ribu satu karung, garaaaaaam” kata tersebut keluar dari speaker toa dari mobil pickup atau mobil bak terbuka yang berkeliling dari pelosok ke pelosok Bima untuk menawarkan garam ke tiap penduduk.

Garam segar yang di produksi secara tradisional di wilayah Kec. Woha dan Bolo Kab. Bima

Menurut sebuah referensi, pembuatan garam dilakukan di tambak, Tambak Garam adalah kolam dangkal buatan yang dirancang untuk menghasilkan garam dari air laut atau air asin lainnya. Air laut atau air garam dimasukkan ke kolam besar dan air dipisahkan dengan garam melalui penguapan alami yang memungkinkan garam untuk dipanen. Selama lima tahun yang dibutuhkan bagi air teluk untuk benar-benar berubah menjadi air garam, air tersebut dipindahkan dari satu kolam penguapan ke kolam yang lain. Pada tahap akhir, ketika air garam sepenuhnya jenuh, ia dipompa ke Crystalizer di mana hamparan garam setebal 5 sampai 8 inci siap dipanen.

Pembuatan garam di wilayah bima masih dilakukan secara tradisional dengan menggunakan tenaga manusia mulai dari perataan tambak sampai dengan pengangkutan ke tempat penyimpanan, area tambak di wilayah bima terletak di wilayah kec. Belo dan Bolo, dan sangat sedikit diwilayah kecamatan Sape yaitu di desa soro (dibelakang SMK 1 Bima dan seputaran Bugis Sape).
para petani garam di wilayah bolo dan belo mengungkapkan bahwa pembuatan garam dilakukan pada musim kemarau, tampa menggunakan alas pada saat pengkristalan air laut menjadi garam, dan itu berbeda dengan metode yang digunakan di jawa atau daerah lain di indonesia.
terlepas dari itu semua, lahan tambak garam di bima merupakan sebuah destinasi wisata yang menampakan sisi Humanity yang sangat kental, bagaimana petani garam mengadu nasib mereka dengan harga garam yang sekarung ((ukuran karung 50 – 60 Kg) dihargai dengan Rp.5000,-
Dengan pemandangan yang aduhai ketika musim hujan, tambak garam di Bima merupakan spot yang sangat bagus untuk di abadikan dari udara juga.
sekarang, selain Garam, mungkin akan ada yang tertarik untuk menjadikannya dfestinasi wisata???
Pengambilan Kristal Garam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s