Layang-layang Batu /Hirundo tahitica / Pacific Swallow

Layang-Layang Batu / Pacifik Swallow

kata kawan saya “burung itu kok di foto, apa sudah tidak ada yang lain lagi?” wadddduh asli tepok jidat saya dan tersenyum sendiri ketika mendengar canda’an dari kawan saya tersebut, yaaa bukan apa-apa sih, cuman ketika berjalan melalui mereka kadang nyesak ketika melihat burung ini bercanda dengan jenisnya, kadang buat ketawa dan kadang buat meringis.
Jenis ini sangat umum berada di indonesia dan biasanya bisa di jumpai di loteng-loteng rumah kita yang dekat dengan areal persawahan atau areal ladang masyarakat, dalam bahasa indonesianya yang lain jenis ini di namakan SRITI.
Khusus di Bima NTB sendiri, jenis ini ada beberpa variasi, satu jenis lagi yaitu layang-layang loreng yang migrasi dari daerah selatan dunia (saya belum ada gambarnya hehehe), di bima NTB jenis ini masih sangat banyak dan bermain dengan burung walet juga.

canda layang – layang batu

sedikit saya sadur tentang pacific swallow ini dari [http://id.wikipedia.org/wiki/Layang-layang_batu]
[Panjang tubuh sekitar 13 cm. Panjang sayap melebihi ekor, sehingga saat menutup kedua sayap saling bersilangan di bawah ekor. Bagian atas berwarna biru gelap dan tenggorokan berwarna merah karat. Layang-layang batu hidup dalam kelompok kecil. Menghuni di sekitar pemukiman penduduk dan lahan pertanian, sering terlihat pada area yang terbuka. Makanan utamanya adalah serangga. Berbeda dengan jenis burung walet yang sepanjang hari dapat menghabisakan waktunya untuk terbang, burung layang-layang batu kerap terlihat bertengger untuk beristirahat. Saat siang hari, seringkali terlihat menyambar air. Burung ini membangun sarang dengan bahan dasar lumpur pada permukaan yang keras seperti tebing dan dinding.]

dan sedikit lagi saya sadur dari [http://www.kutilang.or.id/2011/11/18/layang-layang-batu/]

[Penyebaran:
India selatan, Asia tenggara , Filipina, Semenanjung Malaysia, dan Sunda Besar, sampai P. Papua dan Tahiti.
Secara global terdiri atas 8 sub-spesies, dengan daerah persebaran:

domicola Jerdon, 1844 – India Selatan Sri Lanka.
javanica Sparrman, 1789 – Kep. Andaman, kawasan pesisir Myanmar, Thailand Selatan, Kamboja Selatan dan Indochina sampai Filipina, Wallacea, Sunda Besar dan Sunda Kecil.
namiyei (Stejneger, 1887) – Kep. Ryukyu (Nansei-shoto) dan Taiwan.
frontalis Quoy & Gaimard, 1830 – Papua bagian barat dan utara.
albescens Schodde & Mason, 1999 – Papua bagian selatan dan timur.
ambiens Mayr, 1934 – New Britain, di Kep. Bismarck.
subfusca Gould, 1856 – New Ireland, Solomon, New Caledonia dan Vanuatu sampai Fiji dan Tonga.
tahitica J. F. Gmelin, 1789 – Kep. Society (Moorea, Tahiti).

Tempat hidup dan Kebiasaan:
banyak terdapat di daerah terbuka terutama di atas air sampai ketinggian 1.500 m. Biasanya ditemukan dalam kelompok kecil yang terpisah-pisah. Mencari makan sendiri-sendiri dalam lingkaran atau melayang rendah di atas air. Pada musim dingin sering bergabung dengan walet, tetapi tidak berkumpul dalam kelompok besar untuk bermalam. Sarang berupa cangkir dari gumpalan lumpur, menempel di bawah langit-langit, jembatan atau bergantung di bebatuan. Sarang ini mempunyai jalan measuk berupa lubang terbuka di bagian atasnya.

Status
Daftar merah IUCN : Kurang mengkhawatirkan (LC)
Perdagangan Internasional: –
Perlindungan:–]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s